Halo Sobat Investor!
Kali ini saya akan berbagi tips dalam memilih reksadana yang bagus, sebelumnya saya telah membahas bagaimana cara berinvestasi reksadana secara online dengan sangat mudah dan praktis menggunakan aplikasi Bibit. Jika berkenan, kalian bisa membacanya di sini ya.
Perlu diketahui, instrumen investasi jenis apa pun pasti memiliki risiko. Tak ada investasi yang secara mutlak bisa menjanjikan keuntungan secara pasti dan terukur, tak terkecuali reksadana. Memang benar, reksadana ini dikatakan sangat cocok untuk pemula yang masih bingung cara melakukan analisis fundamental terhadap instrumen investasi yang akan dipilih, namun sudah tentu bahwa reksadana juga memiliki risiko yang harus diketahui para investor.
Memangnya apa saja sih risiko dalam berinvestasi reksadana? Simak penjelasannya berikut!
1. Risiko berkurangnya nilai unit penyertaan.
Inilah risiko berinvestasi reksadana yang paling mutlak, yaitu berkurangnya nilai modal investasi yang dipengaruhi oleh turunnya harga dari efek (saham, obligasi, dan surat berharga lainnya) yang masuk dalam portofolio reksadana tersebut. Sederhananya, investor bisa mengalami kerugian jika nilai aktiva bersih (NAB) atau harga per unit reksadananya mengalami penurunan.
2. Risiko likuiditas.
3. Risiko terdampak politik dan ekonomi.
Alokasi aset yang terdapat dalam satu produk reksadana sangat bermacam-macam, antara lain saham, obligasi, dan surat berharga lainnya. Jika kondisi politik dan ekonomi sedang buruk atau mengalami krisis, tentu akan berefek juga pada kinerja sebuah produk reksadana.
4. Tidak dijamin pemerintah.
Hal ini juga wajib diketahui para investor reksadana. Berbeda dengan SUN (Surat Utang Negara) atau SBN (Surat Berharga Negara) yang telah dijamin oleh pemerintah sehingga risiko gagal bayarnya rendah, kerugian dalam berinvestasi reksadana sepenuhnya ditanggung oleh investor.
5. Risiko wanprestasi.
Risiko ini disebut juga sebagai risiko gagal bayar, biasanya terjadi karena perusahaan yang terafiliasi dengan manajer investasi reksadana gagal memenuhi kewajibannya.
6. Risiko regulasi.
Nah, itulah beberapa risiko yang wajib diketahui para investor dalam berinvestasi reksadana, lalu bagaimana cara meminimalisir kemungkinan terjadinya risiko-risiko tersebut? Salah satunya yaitu dengan memilih produk reksadana yang bagus dan tepat. Dengan memiliki produk reksadana yang bagus, para investor setidaknya bisa lebih tenang dan percaya terhadap kinerja produk reksadananya.
Berikut ini adalah cara atau tips dalam memilih produk reksadana yang bagus menurut saya. Simak baik-baik ya Sobat Investor!
1. Memeriksa prospektus dan fund fact sheet reksadana.
Di aplikasi Bibit, keterangan prospektus dan fund fact sheet tersedia di setiap produk reksadana, kita bisa memeriksanya terlebih dahulu sebelum membeli produk reksadana tersebut.
2. Memeriksa max drawdown reksadana.
Max drawdown adalah penurunan maksimal yang dialami produk reksadana selama jangka waktu tertentu. Penurunan ini dihitung dari titik puncak tertinggi ke titik terendah hingga mencapai puncak tertinggi yang baru. Max Drawdown dapat menjadi acuan penting dalam memilih produk reksadana. Semakin kecil penurunan yang dialami produk reksadana, semakin bagus pula produk tersebut.
3. Memeriksa track record return reksadana.
Return/imbal hasil suatu produk reksadana yang mengalami konsistensi dalam jangka waktu yang panjang (meski pernah mengalami penurunan tajam) menandakan kinerja dan pengelolaan yang bagus dari produk tersebut. Jangan tergiur dengan return/imbal hasil yang tinggi dalam jangka waktu yang pendek, karena hal tersebut menandakan produk reksadana tersebut memiliki tingkat risiko yang tinggi pula. Jadi kuncinya ada pada konsistensi kinerjanya, belum tentu produk reksadana yang memiliki return tinggi dalam jangka pendek lebih bagus dari pada produk lain yang return-nya rendah namun konsisten dalam jangka panjang.
![]() |
| Return jangka panjang |
![]() |
| Return jangka pendek |
4. Memeriksa expense ratio reksadana.
Expense ratio mengukur seberapa besar biaya yang digunakan manajer investasi dalam mengelola produk reksadananya. Semakin kecil persentase expense ratio, menandakan semakin piawai manajer investasinya dan semakin bagus pula produk reksadana yang dikelola.
5. Memeriksa AUM (Asset Under Management) reksadana.
AUM (Asset Under Management) adalah total dana kelolaan yang dimiliki manajer investasi dalam sebuah produk reksadana. Semakin besar AUM, semakin bagus produk reksadana tersebut karena menandakan banyak investor yang percaya terhadap produk tersebut.







Komentar
Posting Komentar