Langsung ke konten utama

Hal-hal Penting yang Perlu dilakukan Sebelum Berinvestasi Reksadana

Halo Sobat Investor!

Pada era yang serba canggih ini, investasi merupakan hal yang sudah tidak sulit untuk dilakukan oleh siapa pun, apa lagi terkesan menakutkan atau ‘mengintimidasi’ karena dibayangi oleh risiko kerugian. Saat ini, banyak sekali pilihan instrumen investasi yang dapat dijadikan sebagai alternatif untuk mengalokasikan dana para investor—yang dapat diakses dengan mudah secara digital. Semua diproses secara instan dan praktis secara online. Namun, seiring dengan banyaknya kemudahan yang ditawarkan oleh era modern dalam berinvestasi seperti sekarang, semakin banyak pula calon investor yang abai terhadap hal-hal penting yang harus diperhatikan sebelum berinvestasi. Banyak sekali calon investor yang gegabah dan malas meluangkan sedikit waktunya untuk melakukan analisis-analisis sederhana pada instrumen investasi yang mereka pilih sebelum ‘bergelut’ dengannya.

Nah, untuk kali ini saya akan membahas mengenai hal-hal penting yang harus diperhatikan  sebelum memulai berinvestasi, khususnya berinvestasi reksadana. Tentu saja, kita tidak boleh asal-asalan atau sekadar iseng/coba-coba saja dalam berinvestasi. Ada hal-hal penting yang harus disiapkan calon investor sebelum memutuskan untuk mengalokasikan dananya pada instrumen investasi tertentu, bahkan untuk instrumen investasi yang tingkat risikonya rendah seperti emas dan reksadana pasar uang sekalipun. Jadi apa saja sih yang harus dipersiapkan calon investor sebelum memulai untuk berinvestasi? Simak penjelasannya sebagai berikut!

1.    Tentukan Tujuan Investasi

Sumber gambar: Bibit.id

Sebelum memutuskan untuk memulai investasi, apa pun instrumen investasinya tak terkecuali reksadana, kita sebagai investor wajib memiliki tujuan investasi atau goal untuk keuangan kita. Ibarat hendak bepergian ke suatu tempat, reksadana (instrumen investasi) di sini hanyalah kendaraan bagi kita (investor) untuk sampai pada tempat (tujuan investasi) tersebut. Investor yang tidak tahu tujuan investasinya, sama saja hanya berputar-putar dengan kendaraannya tanpa arah tujuan yang jelas. Tujuan investasi ini ada bermacam-macam, misalnya untuk membeli rumah, membeli kendaraan, menyiapkan dana untuk pernikahan, menyiapkan masa pensiun, dan lain-lain.

Sangatlah penting untuk menentukan tujuan kita terlebih dahulu sebelum memilih reksadana sebagai instrumen dalam berinvestasi, karena reksadana pun ada banyak jenisnya dan tidak dapat dipilih sembarangan. Setiap jenis reksadana sudah dirancang dan dicocokkan untuk tujuan investasi tertentu, apakah untuk jangka waktu yang panjang atau pendek. Sebelumnya, saya sudah membahas jenis-jenis reksadana beserta jangka waktu yang cocok untuk setiap jenisnya di sini. Memilih reksadana pasar uang untuk tujuan investasi jangka pendek tentu merupakan keputusan yang salah, karena reksadana saham memiliki tingkat risiko yang tinggi dan sangat fluktuatif. Jika beruntung (reksadana sedang mengalami tren naik), kita memang dapat mendapatkan return/imbal hasil yang tinggi dalam jangka pendek tersebut, namun jika sedang mengalami penurunan, tentu yang kita dapatkan malah kerugian, dan investasi kita menjadi sia-sia di akhir tujuan.

Saat ini, saya pribadi pun memiliki goal atau tujuan investasi, yaitu untuk persiapan dana pernikahan tahun depan, jadi kurang lebih saya memiliki waktu 1 tahun untuk berinvestasi. Nah, karena jangka waktu untuk mencapai tujuan investasi saya dapat dikatakan pendek, maka jenis reksadana yang saya pilih tentu bukan reksadana saham (tingkat risiko tinggi), melainkan reksadana pasar uang (tingkat risiko rendah) dan reksadana obligasi (tingkat risiko moderat/menengah). Untuk pembahasan lebih lanjut mengenai tingkat risiko tiap jenis reksadana, kita beralih ke poin nomor 2 yuk!   

2.    Kenali Profil Risiko Diri

Seperti yang sudah saya jelaskan secara singkat di atas, setiap jenis reksadana memiliki tingkat risiko yang berbeda sehingga investor tidak dapat sembarangan memilih jenis reksadana dalam mewujudkan tujuan investasinya. Harus menyesuaikan dengan tingkat profil risiko diri masing-masing. Apa sih sebenarnya profil risiko itu? Menurut investopedia.com, profil risiko adalah evaluasi atau kesediaan individu atau organisasi dalam menerima risiko, serta ancaman yang akan dihadapi. Jika konteksnya dalam investasi, berarti profil risiko adalah tingkat kesediaan atau toleransi investor untuk menerima risiko dalam berinvestasi, terutama risiko kerugian. Tentu profil risiko setiap orang berbeda. Secara umum, profil risiko dibedakan menjadi 3 jenis, yaitu konservatif (rendah), moderat (menengah), dan agresif (tinggi).

Sumber gambar: Bibit.id

Investor dengan profil risiko konservatif cenderung lebih memperhatikan keamanan modal investasi, tidak mau menanggung risiko kerugian yang tinggi, dan mau menerima return/imbal hasil yang rendah asalkan tidak merugi. Investor dengan profil risiko ini cocok sekali dengan jenis reksadana pasar uang karena tingkat risikonya rendah meski return/imbal hasilnya rendah pula. Investor dengan profil risiko moderat lebih mengutamakan peningkatan imbal hasil investasi yang dapat berada di atas inflasi, dan cukup dapat menerima risiko kerugian dalam jangka pendek. Investor dengan profil risiko ini cocok dengan jenis reksadana obligasi karena tingkat risikonya menengah dan return/imbal hasilnya dapat melebihi atau berada di atas inflasi. Sedangkan investor dengan profil risiko agresif bertujuan untuk mendapatkan imbal hasil investasi yang tinggi, dan mau menerima risiko yang tinggi pula. Investor dengan profil risiko ini cocok sekali dengan jenis reksadana saham karena memiliki kemungkinan untuk mencetak return/imbal hasil yang tinggi dalam jangka panjang meski risikonya tinggi pula.

Sebenarnya ada beberapa faktor yang dapat memengaruhi pembentukan profil risiko setiap investor, antara lain tujuan investasi, jangka waktu investasi, dan kondisi keuangan investor. Investor yang investasinya bertujuan untuk kebutuhan (needs) pasti lebih konservatif dibandingkan dengan yang bertujuan untuk keinginan (wants) saja, investor yang hendak berinvestasi dalam jangka waktu yang pendek (seperti saya misalnya), pasti lebih konservatif dibandingkan dengan yang hendak berinvestasi dalam jangka waktu panjang, dan investor yang kondisi keuangannya sedang tidak bagus pasti akan lebih konservatif dibandingkan dengan yang kondisi keuangannya sedang bagus. Jadi profil risiko ini pun bisa berubah sewaktu-waktu karena pengaruh dari faktor-faktor tersebut.

Jadi sangatlah penting untuk mengenal terlebih dahulu profil risiko diri sendiri, sehingga kita dapat tahu seberapa besar diri kita dapat bertoleransi terhadap risiko kerugian dalam berinvestasi dan dapat menemukan jenis reksadana yang tepat untuk profil kita masing-masing, jika toleransinya rendah (konservatif), pilih jenis reksadana yang tingkat risikonya rendah (konservatif) pula, yaitu reksadana pasar uang, begitu seterusnya. Namun, sebenarnya setiap investor tidak disarankan untuk memiliki satu jenis reksadana saja dalam portofolionya. Seperti saya misalnya, tujuan investasi saya adalah untuk dana pernikahan, dalam jangka waktu yang pendek (1 tahun), lalu apakah saya hanya berinvestasi pada jenis reksadana pasar uang saja? Jawabannya adalah tidak, saya tetap menerapkan strategi diversifikasi. Apa itu diversifikasi? Simak penjelasannya pada poin nomor 3 ya!

3.    Pilih Strategi yang Tepat

Setelah mengetahui tujuan investasi dan profil risiko diri sebagai investor, hal penting selanjutnya yang harus diperhatikan sebelum memulai investasi reksadana adalah memilih strategi yang tepat. Anggaplah investasi ini sebagai sebuah peperangan, tentu pihak mana pun harus menyiapkan strategi jitu sebelum akhirnya terjun langsung ke dalam medan tempur. Mereka yang strateginya buruk, atau bahkan tidak memiliki strategi sama sekali pasti akan menuai hasil yang buruk juga. Tentu saja, kita tidak bisa sembarangan dalam melakukan investasi, harus ada strategi yang mendasarinya atau setidaknya bekal berupa pengetahuan mendasar yang perlu kita pelajari mengenai instrumen investasi yang akan kita gunakan sebagai ‘senjata’ ini supaya mendapat imbal hasil yang sesuai dengan tujuan. Senjata (instrumen investasi/reksadana) yang bagus belum tentu menjamin pihak mana pun (investor) akan memenangkan peperangan (investasi) jika tidak didasari dengan strategi yang bagus pula, kira-kira begitu.

 Strategi yang dapat digunakan investor dalam berinvestasi reksadana ada bermacam-macam, ada DCA/Dollar Cost Averaging atau menabung secara rutin tanpa memperhatikan NAV reksadana sedang naik atau turun, ada juga Lump Sum atau menabung dengan nominal besar secara sekaligus di awal investasi. Untuk kedua strategi ini sebenarnya sama bagusnya, asal menerapkannya tepat atau sesuai dengan kondisi keuangan pribadi. Saya pribadi saat ini misalnya, menerapkan strategi DCA karena memang kondisi keuangan saya (yang mengandalkan gaji bulanan untuk berinvestasi) tidak memungkinkan untuk melakukan Lump Sum

Sumber gambar: Bibit.id

Strategi selanjutnya yang dapat dilakukan investor adalah menerapkan diversifikasi.

Sumber gambar: reksadanacom

Sobat Investor pasti sering sekali mendengar pepatah, “Don’t put your eggs in one basket.” Yang artinya, “Jangan letakkan semua telur Anda dalam satu keranjang.” Nah, pepatah tersebut adalah penggambaran paling cocok mengenai strategi diversifikasi dalam dunia investasi. Diversifikasi berarti mengadakan keragaman aset atau instrumen investasi dalam portofolio dengan tujuan untuk meminimalisir kerugian, dalam artian jika ada satu nilai aset atau instrumen yang sedang mengalami penurunan, kerugiannya dapat ditutup dengan aset atau instrumen lain yang nilainya sedang naik. Diversifikasi dilakukan dengan cara memecah dana atau modal investasi ke beberapa aset atau instrumen investasi, jika berinvestasi reksadana, berarti modal investasi dipecah ke beberapa jenis reksadana. Tetap saja, strategi ini harus diterapkan sesuai dengan tujuan investasi dan profil risiko diri seorang investor seperti yang telah saya jelaskan pada poin-poin sebelumnya. Seperti biasa, di sini saya akan mencontohkan diri saya sendiri. Pada saat ini tujuan investasi saya adalah untuk persiapan dana pernikahan, dan harus saya capai dalam waktu kurang lebih 1 tahun (jangka pendek), tentu saya tidak akan menaruh/membeli jenis reksadana saham ke dalam portofolio saya. Saya tetep melakukan strategi diversifikasi, tetapi untuk jenis reksadana pasar uang dan reksadana obligasi saja. Jadi strategi yang saya terapkan untuk berinvestasi saat ini adalah DCA dan diversifikasi.   

Nah itulah hal-hal penting yang menurut saya sangat perlu diperhatikan sebelum memulai berinvestasi reksadana. Hal lain yang perlu dilakukan pastinya perdalam ilmu pengetahuan mengenai reksadana atau instrumen apa pun yang telah menjadi pilihan untuk berinvestasi, mulai dari bagaimana cara kinerjanya hingga pihak mana saja yang terkait dengan proses pengelolaannya. Semakin mengenal reksadana, tentu semakin bagus juga pengalaman berinvestasi kita. Selanjutnya, tunggu apa lagi? Segeralah berinvestasi! Sekian, semoga bermanfaat.


Baca juga:

🕂Cara Memilih Reksadana yang Bagus

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investasi Reksadana dengan Mudah Menggunakan Aplikasi Bibit (Cocok untuk Pemula)

Sumber gambar: Bibit.id Halo  Sobat Investor!      Kali ini saya akan menjelaskan bagaimana mudahnya berinvestasi reksadana secara  online  melalui aplikasi Bibit. Investasi reksadana ini banyak dikatakan sangat cocok sekali untuk pemula karena sangat praktis dan mudah.      Pertama, kalian harus tahu apa itu reksadana. Jadi, apa sih sebenarnya reksadana itu?  Reksadana adalah wadah dana/modal bagi investor untuk berinvestasi dalam instrumen-instrumen investasi yang tersedia di pasar modal. Dana ini kemudian dikelola oleh Manajer Investasi (MI) untuk diinvestasikan ke dalam portofolio investasi seperti pasar uang, obligasi, dan saham.      Jadi sederhananya, kita tinggal setor dana/modal saja untuk diinvestasikan (membeli produk reksadana), kemudian kita tinggal memantau return /imbal hasilnya saja karena dana kita tadi sudah dikelola oleh perusahaan/Manajer Investasi (MI) ...

Download RPP 1 Lembar Bahasa Indonesia Kelas XI SMA Semester Ganjil (Teks Cerita Pendek) Pertemuan kedua

Halo Sobat Guru!  Seperti yang telah kita ketahui, RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) 1 lembar merupakan RPP yang disederhanakan sebagai wujud implementasi dari surat edaran Mendikbud No. 14 Tahun 2019 tentang penyederhanaan RPP. Surat edaran tersebut berisi pernyataan bahwa pembuatan RPP harus dilakukan dengan menerapkan 3 prinsip utama, yakni efisien, efektif dan berorientasi pada siswa. Jika sebelumnya RPP berisi 13 komponen, kini RPP 1 lembar ini hanya berisi 3 komponen utama yakni: 1. Tujuan Pembelajaran 2. Langkah-langkah Pembelajaran, dan  3. Penilaian Sebagai guru Bahasa Indonesia di instansi tempat saya bekerja, tentu saya juga harus menyiapkan atau membuat RPP 1 lembar ini. Menurut saya, dengan disederhanakannya RPP menjadi satu lembar ini, tugas para guru akan menjadi lebih ringan khususnya dalam hal persiapan administrasi pembelajaran. Para guru kini bisa lebih fokus dan leluasa untuk memperluas wawasan materi maupun mengembangkan bahan ajar yang akan diberikan...