Pada era yang serba canggih ini, investasi merupakan hal yang sudah
tidak sulit untuk dilakukan oleh siapa pun, apa lagi terkesan menakutkan
atau ‘mengintimidasi’ karena dibayangi oleh risiko kerugian. Saat ini, banyak
sekali pilihan instrumen investasi yang dapat dijadikan sebagai alternatif
untuk mengalokasikan dana para investor—yang dapat diakses dengan mudah secara
digital. Semua diproses secara instan dan praktis secara online. Namun,
seiring dengan banyaknya kemudahan yang ditawarkan oleh era modern dalam
berinvestasi seperti sekarang, semakin banyak pula calon investor yang abai
terhadap hal-hal penting yang harus diperhatikan sebelum berinvestasi. Banyak
sekali calon investor yang gegabah dan malas meluangkan sedikit waktunya untuk
melakukan analisis-analisis sederhana pada instrumen investasi yang mereka
pilih sebelum ‘bergelut’ dengannya.
Nah, untuk kali ini saya akan membahas
mengenai hal-hal penting yang harus diperhatikan sebelum memulai berinvestasi, khususnya
berinvestasi reksadana. Tentu saja, kita tidak boleh asal-asalan atau sekadar
iseng/coba-coba saja dalam berinvestasi. Ada hal-hal penting yang harus
disiapkan calon investor sebelum memutuskan untuk mengalokasikan dananya pada
instrumen investasi tertentu, bahkan untuk instrumen investasi yang tingkat
risikonya rendah seperti emas dan reksadana pasar uang sekalipun. Jadi apa saja
sih yang harus dipersiapkan calon investor sebelum memulai untuk
berinvestasi? Simak penjelasannya sebagai berikut!
1.
Tentukan Tujuan
Investasi
![]() |
| Sumber gambar: Bibit.id |
Sebelum memutuskan untuk memulai investasi, apa pun instrumen
investasinya tak terkecuali reksadana, kita sebagai investor wajib memiliki
tujuan investasi atau goal untuk keuangan kita. Ibarat hendak bepergian
ke suatu tempat, reksadana (instrumen investasi) di sini hanyalah kendaraan
bagi kita (investor) untuk sampai pada tempat (tujuan investasi) tersebut. Investor
yang tidak tahu tujuan investasinya, sama saja hanya berputar-putar dengan
kendaraannya tanpa arah tujuan yang jelas. Tujuan investasi ini ada bermacam-macam,
misalnya untuk membeli rumah, membeli kendaraan, menyiapkan dana untuk
pernikahan, menyiapkan masa pensiun, dan lain-lain.
Sangatlah penting untuk menentukan tujuan kita terlebih dahulu sebelum
memilih reksadana sebagai instrumen dalam berinvestasi, karena reksadana pun
ada banyak jenisnya dan tidak dapat dipilih sembarangan. Setiap jenis reksadana
sudah dirancang dan dicocokkan untuk tujuan investasi tertentu, apakah untuk
jangka waktu yang panjang atau pendek. Sebelumnya, saya sudah membahas
jenis-jenis reksadana beserta jangka waktu yang cocok untuk setiap jenisnya di sini. Memilih reksadana pasar uang untuk tujuan investasi jangka pendek
tentu merupakan keputusan yang salah, karena reksadana saham memiliki tingkat
risiko yang tinggi dan sangat fluktuatif. Jika beruntung (reksadana sedang
mengalami tren naik), kita memang dapat mendapatkan return/imbal hasil
yang tinggi dalam jangka pendek tersebut, namun jika sedang mengalami
penurunan, tentu yang kita dapatkan malah kerugian, dan investasi kita menjadi
sia-sia di akhir tujuan.
Saat ini, saya pribadi pun memiliki goal atau tujuan
investasi, yaitu untuk persiapan dana pernikahan tahun depan, jadi kurang lebih
saya memiliki waktu 1 tahun untuk berinvestasi. Nah, karena
jangka waktu untuk mencapai tujuan investasi saya dapat dikatakan pendek, maka
jenis reksadana yang saya pilih tentu bukan reksadana saham (tingkat risiko
tinggi), melainkan reksadana pasar uang (tingkat risiko rendah) dan reksadana
obligasi (tingkat risiko moderat/menengah). Untuk pembahasan lebih lanjut mengenai
tingkat risiko tiap jenis reksadana, kita beralih ke poin nomor 2 yuk!
2.
Kenali Profil Risiko
Diri
Seperti yang sudah saya jelaskan secara singkat di atas, setiap
jenis reksadana memiliki tingkat risiko yang berbeda sehingga investor tidak dapat
sembarangan memilih jenis reksadana dalam mewujudkan tujuan investasinya. Harus
menyesuaikan dengan tingkat profil risiko diri masing-masing. Apa sih sebenarnya
profil risiko itu? Menurut investopedia.com, profil risiko adalah evaluasi atau
kesediaan individu atau organisasi dalam menerima risiko, serta ancaman yang
akan dihadapi. Jika konteksnya dalam investasi, berarti profil risiko adalah
tingkat kesediaan atau toleransi investor untuk menerima risiko dalam
berinvestasi, terutama risiko kerugian. Tentu profil risiko setiap orang
berbeda. Secara umum, profil risiko dibedakan menjadi 3 jenis, yaitu
konservatif (rendah), moderat (menengah), dan agresif (tinggi).
![]() |
| Sumber gambar: Bibit.id |
Investor dengan profil risiko konservatif cenderung lebih
memperhatikan keamanan modal investasi, tidak mau menanggung risiko kerugian
yang tinggi, dan mau menerima return/imbal hasil yang rendah asalkan
tidak merugi. Investor dengan profil risiko ini cocok sekali dengan jenis
reksadana pasar uang karena tingkat risikonya rendah meski return/imbal
hasilnya rendah pula. Investor dengan profil risiko moderat lebih mengutamakan
peningkatan imbal hasil investasi yang dapat berada di atas inflasi, dan cukup dapat
menerima risiko kerugian dalam jangka pendek. Investor dengan profil risiko ini
cocok dengan jenis reksadana obligasi karena tingkat risikonya menengah dan return/imbal
hasilnya dapat melebihi atau berada di atas inflasi. Sedangkan investor dengan
profil risiko agresif bertujuan untuk mendapatkan imbal hasil investasi yang
tinggi, dan mau menerima risiko yang tinggi pula. Investor dengan profil risiko
ini cocok sekali dengan jenis reksadana saham karena memiliki kemungkinan untuk
mencetak return/imbal hasil yang tinggi dalam jangka panjang meski
risikonya tinggi pula.
Sebenarnya ada beberapa faktor yang dapat memengaruhi pembentukan
profil risiko setiap investor, antara lain tujuan investasi, jangka waktu
investasi, dan kondisi keuangan investor. Investor yang investasinya bertujuan
untuk kebutuhan (needs) pasti lebih konservatif dibandingkan dengan yang
bertujuan untuk keinginan (wants) saja, investor yang hendak
berinvestasi dalam jangka waktu yang pendek (seperti saya misalnya), pasti
lebih konservatif dibandingkan dengan yang hendak berinvestasi dalam jangka waktu
panjang, dan investor yang kondisi keuangannya sedang tidak bagus pasti akan
lebih konservatif dibandingkan dengan yang kondisi keuangannya sedang bagus.
Jadi profil risiko ini pun bisa berubah sewaktu-waktu karena pengaruh dari
faktor-faktor tersebut.
Jadi sangatlah penting untuk mengenal terlebih dahulu profil risiko
diri sendiri, sehingga kita dapat tahu seberapa besar diri kita dapat
bertoleransi terhadap risiko kerugian dalam berinvestasi dan dapat menemukan
jenis reksadana yang tepat untuk profil kita masing-masing, jika toleransinya
rendah (konservatif), pilih jenis reksadana yang tingkat risikonya rendah (konservatif)
pula, yaitu reksadana pasar uang, begitu seterusnya. Namun, sebenarnya setiap
investor tidak disarankan untuk memiliki satu jenis reksadana saja dalam
portofolionya. Seperti saya misalnya, tujuan investasi saya adalah untuk dana
pernikahan, dalam jangka waktu yang pendek (1 tahun), lalu apakah saya hanya
berinvestasi pada jenis reksadana pasar uang saja? Jawabannya adalah tidak,
saya tetap menerapkan strategi diversifikasi. Apa itu diversifikasi? Simak
penjelasannya pada poin nomor 3 ya!
3.
Pilih Strategi yang
Tepat
Setelah mengetahui tujuan investasi dan profil risiko diri sebagai
investor, hal penting selanjutnya yang harus diperhatikan sebelum memulai
investasi reksadana adalah memilih strategi yang tepat. Anggaplah investasi ini
sebagai sebuah peperangan, tentu pihak mana pun harus menyiapkan strategi jitu
sebelum akhirnya terjun langsung ke dalam medan tempur. Mereka yang strateginya
buruk, atau bahkan tidak memiliki strategi sama sekali pasti akan menuai hasil yang
buruk juga. Tentu saja, kita tidak bisa sembarangan dalam melakukan investasi,
harus ada strategi yang mendasarinya atau setidaknya bekal berupa pengetahuan
mendasar yang perlu kita pelajari mengenai instrumen investasi yang akan kita
gunakan sebagai ‘senjata’ ini supaya mendapat imbal hasil yang sesuai dengan tujuan.
Senjata (instrumen investasi/reksadana) yang bagus belum tentu menjamin pihak
mana pun (investor) akan memenangkan peperangan (investasi) jika tidak didasari
dengan strategi yang bagus pula, kira-kira begitu.
Strategi yang dapat digunakan investor dalam berinvestasi reksadana ada bermacam-macam, ada DCA/Dollar Cost Averaging atau menabung secara rutin tanpa memperhatikan NAV reksadana sedang naik atau turun, ada juga Lump Sum atau menabung dengan nominal besar secara sekaligus di awal investasi. Untuk kedua strategi ini sebenarnya sama bagusnya, asal menerapkannya tepat atau sesuai dengan kondisi keuangan pribadi. Saya pribadi saat ini misalnya, menerapkan strategi DCA karena memang kondisi keuangan saya (yang mengandalkan gaji bulanan untuk berinvestasi) tidak memungkinkan untuk melakukan Lump Sum.
![]() |
| Sumber gambar: Bibit.id |
Strategi selanjutnya yang dapat
dilakukan investor adalah menerapkan diversifikasi.
![]() |
| Sumber gambar: reksadanacom |
Sobat Investor pasti sering sekali mendengar pepatah, “Don’t put
your eggs in one basket.” Yang artinya, “Jangan letakkan semua telur Anda
dalam satu keranjang.” Nah, pepatah tersebut adalah penggambaran paling
cocok mengenai strategi diversifikasi dalam dunia investasi. Diversifikasi
berarti mengadakan keragaman aset atau instrumen investasi dalam portofolio
dengan tujuan untuk meminimalisir kerugian, dalam artian jika ada satu nilai
aset atau instrumen yang sedang mengalami penurunan, kerugiannya dapat ditutup
dengan aset atau instrumen lain yang nilainya sedang naik. Diversifikasi
dilakukan dengan cara memecah dana atau modal investasi ke beberapa aset atau
instrumen investasi, jika berinvestasi reksadana, berarti modal investasi
dipecah ke beberapa jenis reksadana. Tetap saja, strategi ini harus diterapkan
sesuai dengan tujuan investasi dan profil risiko diri seorang investor seperti
yang telah saya jelaskan pada poin-poin sebelumnya. Seperti biasa, di sini saya
akan mencontohkan diri saya sendiri. Pada saat ini tujuan investasi saya adalah
untuk persiapan dana pernikahan, dan harus saya capai dalam waktu kurang lebih
1 tahun (jangka pendek), tentu saya tidak akan menaruh/membeli jenis reksadana
saham ke dalam portofolio saya. Saya tetep melakukan strategi diversifikasi,
tetapi untuk jenis reksadana pasar uang dan reksadana obligasi saja. Jadi
strategi yang saya terapkan untuk berinvestasi saat ini adalah DCA dan
diversifikasi.
Nah itulah hal-hal penting yang menurut
saya sangat perlu diperhatikan sebelum memulai berinvestasi reksadana. Hal lain
yang perlu dilakukan pastinya perdalam ilmu pengetahuan mengenai reksadana atau
instrumen apa pun yang telah menjadi pilihan untuk berinvestasi, mulai dari
bagaimana cara kinerjanya hingga pihak mana saja yang terkait dengan proses
pengelolaannya. Semakin mengenal reksadana, tentu semakin bagus juga pengalaman
berinvestasi kita. Selanjutnya, tunggu apa lagi? Segeralah berinvestasi!
Sekian, semoga bermanfaat.
Baca juga:




Komentar
Posting Komentar