![]() |
| Sumber gambar: Bibit.id |
Halo, apa kabar Sobat Investor? Semoga di tengah kondisi krisis yang
melanda ini, kita semua masih diberi kesehatan dan keselamatan hingga segalanya
kembali menjadi normal seperti semula.
Ada pertanyaan yang sering saya dengar akhir-akhir ini, yaitu, “Apakah
investasi masih menjadi pilihan yang bagus di masa krisis seperti ini? Atau
menabung saja sudah cukup?”. Menanggapi pertanyaan tersebut, saya sebetulnya
bingung harus menjawab bagaimana. Sebab kondisi keuangan setiap orang itu
berbeda, dan itulah faktor utama yang menjadi pengaruh terhadap keinginan orang
untuk berinvestasi. Kita semua tahu, banyak sekali saudara kita yang
keuangannya menjadi sangat sulit karena krisis pandemi ini. Ada yang di-PHK,
ada yang usahanya tiba-tiba menjadi sangat sepi bahkan sampai mengalami kebangkrutan.
Tentu saya tidak berani mengatakan bahwa investasi masih menjadi pilihan yang
bagus bagi mereka. Alih-alih untuk berinvestasi, untuk bertahan hidup saja bagi
mereka sudah sulit. Belum lagi ketika harus menghadapi kebutuhan genting yang
mendadak seperti saat tiba-tiba terserang penyakit, pengeluaran pokok rutin
bulanan yang tiba-tiba naik, dan lain-lain.
Pada akhirnya, tips yang akan saya berikan ini diperuntukkan bagi
mereka yang masih beruntung bisa menyisihkan sedikit uangnya untuk berinvestasi.
Berikut tips berinvestasi pada masa krisis:
1. Tinjau Ulang Tujuan Keuangan
Mengingat kondisi perekonomian telah berubah menjadi sulit, tentu kita perlu untuk meninjau kembali tujuan investasi kita. Bagi mereka yang terdampak krisis hingga sangat berat, menabung terutama dalam bentuk cash adalah pilihan yang bagus karena tujuan keuangannya untuk jangka waktu yang tidak dapat ditebak dan harus bisa digunakan sewaktu-waktu. Namun jika masih memiliki tujuan keuangan dalam jangka waktu yang panjang, investasi masih bisa menjadi pilihan yang bagus karena semakin lama, nilai uang kita akan terus turun tergerus oleh inflasi. Dengan berinvestasi, nilai uang kita bisa melawannya, bahkan bisa mengunggulinya (berada di atasnya).
2. Jangan Mudah Panik namun Tetap Waspada
Sebelumnya, krisis perekonomian seperti ini pernah terjadi pada
tahun 1998 dan 2008, tetapi pertumbuhan ekonomi selalu bisa pulih kembali. Jika
nilai aset instrumen investasi kita turun pada saat ini, itu wajar. Namun
mengingat pada krisis-krisis yang telah terjadi sebelumnya, kita bisa mengambil
pelajaran bahwa nilainya bisa menguat lagi bahkan lebih baik setelah kondisi
memulih kembali. Justru pada saat nilai aset instrumen investasi sedang anjlok
seperti ini, kita bisa memanfaatkan momentum average down atau
membeli aset pada saat harganya sedang murah. Banyak yang menyebutnya dengan ‘harga
diskon’.
Jika memang tujuan investasinya panjang, jangan mudah panik dengan menjual aset pada saat nilainya sedang turun. Meski begitu, kita juga tetap harus waspada. Jangan sampai ketidakpanikan kita tersebut malah membuat kita abai terhadap kinerja aset instrumen investasi kita. Jika malah prospek ke depannya semakin memburuk dari hari ke hari, kita malah bisa merealisasikan kerugian yang lebih besar. Maka dari itu kita sangat perlu juga untuk meninjau kembali apakah strategi yang kita gunakan dalam berinvestasi masih tepat dan cocok di masa krisis seperti ini atau harus kita ubah.
3. Tinjau Ulang Strategi Investasi
Hal selanjutnya yang perlu kita lakukan adalah meninjau kembali
strategi investasi yang telah kita lakukan, karena kondisinya telah berubah
dari sebelumnya. Kita harus melakukan pembaharuan terhadap gaya dan strategi
kita dalam berinvestasi. Jika sebelumnya gaya investasi kita agresif atau
berani, tentu kita harus mengubahnya menjadi lebih konservatif atau
berhati-hati di masa krisis seperti ini. Strategi investasi yang kita gunakan
pun harus kita sesuaikan dengan kondisi saat ini.
Strategi yang menurut saya cocok digunakan pada saat masa krisis seperti ini antara lain Dollar Cost Averaging (DCA) dan diversifikasi. DCA berarti menabung rutin secara konsisten meski bagaimana pun keadaannya. Strategi ini cocok kita kaitkan dengan pepatah “Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit.”. Tidak usah memaksakan kehendak untuk melakukan strategi Lump Sum atau menabung dengan jumlah besar secara sekaligus pada satu waktu, karena kita dihadapkan dengan keadaan yang sulit. Investasi dalam jumlah besar tentu akan semakin menyulitkan kondisi keuangan kita. Selanjutnya kita perlu juga menerapkan diversifikasi, atau pembagian dana/modal ke berbagai aset instrumen investasi. Tujuan diberlakukannya diversifikasi ini adalah untuk meminimalisir kerugian. Jika ada nilai satu aset yang turun, kerugiannya bisa ditutup dengan aset lain yang nilainya sedang mengalami kenaikan. Nah, maka dari itu sangat penting untuk meninjau kembali portofolio kita beserta aset atau instrumen-instrumen yang ada di dalamnya.
4. Tinjau Ulang Portofolio dan Pilih Instrumen Investasi yang Aman
Ya, kita juga perlu meninjau kembali portofolio kita. Apakah jenis
instrumen investasi yang kita pilih sudah cocok dan bisa tetap stabil meskipun
berada di tengah kondisi krisis seperti ini. Tidak bisa dipungkiri, kondisi
seperti ini membuat banyak investor menjadi cenderung lebih konservatif dari
sebelumnya. Memilih instrumen yang tingkat risikonya kecil dan aman merupakan
cara bagus dalam menghadapi ketidakpastian pergerakan harga pasar.
Saya pribadi misalnya, kemarin telah menjual seluruh aset reksadana
saham karena tingkat risikonya tinggi dan semakin hari semakin turun nilainya.
Saya hanya menyisakan reksadana pasar uang dan reksadana obligasi dalam
portofolio pribadi saya saat ini. Mengingat tujuan investasi saya termasuk ke
dalam horizon jangka pendek, yaitu kurang dari setahun. Tentu instrumen
investasi dengan tingkat risiko yang tinggi tidak cocok berada dalam portofolio
saya, terutama di masa yang krisis seperti ini karena saya bisa merealisasikan
kerugian yang lebih besar pada saat tenggat waktu tujuan investasi saya terlah
tercapai nanti.
Oh iya, sebelumnya saya telah menulis instrumen investasi yang masih aman dan stabil kinerjanya meski di tengah kondisi krisis seperti saat ini. Sobat Investor bisa membacanya di sini ya.
5. Terus Pantau Kinerja Aset/Instrumen Investasi
Terakhir dan tidak kalah pentingnya, kita harus secara berkala
memantau grafik kinerja aset atau instrumen investasi dalam portofolio kita. Tentu
kita harus tahu perkembangan aset atau instrumen investasi yang kita miliki
dari waktu ke waktu. Apakah semakin hari semakin baik kinerjanya atau malah sebaliknya.
Dengan melakukan pemantauan secara berkala, kita bisa berhati-hati
dan mengamankan aset investasi jika seandainya kondisi perekonomian dunia
semakin buruk ke depannya.
Itulah beberapa tips berinvestasi pada masa krisis. Semoga kondisi
perekonomian global (termasuk Indonesia) bisa segera pulih sehingga pergerakan
pasar modal bisa kembali normal seperti semula. Sekian, semoga bermanfaat!

Komentar
Posting Komentar