Langsung ke konten utama

5 Tips Berinvestasi di Masa Krisis

 

Sumber gambar: Bibit.id

Halo, apa kabar Sobat Investor? Semoga di tengah kondisi krisis yang melanda ini, kita semua masih diberi kesehatan dan keselamatan hingga segalanya kembali menjadi normal seperti semula.

Ada pertanyaan yang sering saya dengar akhir-akhir ini, yaitu, “Apakah investasi masih menjadi pilihan yang bagus di masa krisis seperti ini? Atau menabung saja sudah cukup?”. Menanggapi pertanyaan tersebut, saya sebetulnya bingung harus menjawab bagaimana. Sebab kondisi keuangan setiap orang itu berbeda, dan itulah faktor utama yang menjadi pengaruh terhadap keinginan orang untuk berinvestasi. Kita semua tahu, banyak sekali saudara kita yang keuangannya menjadi sangat sulit karena krisis pandemi ini. Ada yang di-PHK, ada yang usahanya tiba-tiba menjadi sangat sepi bahkan sampai mengalami kebangkrutan. Tentu saya tidak berani mengatakan bahwa investasi masih menjadi pilihan yang bagus bagi mereka. Alih-alih untuk berinvestasi, untuk bertahan hidup saja bagi mereka sudah sulit. Belum lagi ketika harus menghadapi kebutuhan genting yang mendadak seperti saat tiba-tiba terserang penyakit, pengeluaran pokok rutin bulanan yang tiba-tiba naik, dan lain-lain.

Pada akhirnya, tips yang akan saya berikan ini diperuntukkan bagi mereka yang masih beruntung bisa menyisihkan sedikit uangnya untuk berinvestasi.

Berikut tips berinvestasi pada masa krisis:

        1. Tinjau Ulang Tujuan Keuangan

Mengingat kondisi perekonomian telah berubah menjadi sulit, tentu kita perlu untuk meninjau kembali tujuan investasi kita. Bagi mereka yang terdampak krisis hingga sangat berat, menabung terutama dalam bentuk cash adalah pilihan yang bagus karena tujuan keuangannya untuk jangka waktu yang tidak dapat ditebak dan harus bisa digunakan sewaktu-waktu. Namun jika masih memiliki tujuan keuangan dalam jangka waktu yang panjang, investasi masih bisa menjadi pilihan yang bagus karena semakin lama, nilai uang kita akan terus turun tergerus oleh inflasi. Dengan berinvestasi, nilai uang kita bisa melawannya, bahkan bisa mengunggulinya (berada di atasnya).

2. Jangan Mudah Panik namun Tetap Waspada

Sebelumnya, krisis perekonomian seperti ini pernah terjadi pada tahun 1998 dan 2008, tetapi pertumbuhan ekonomi selalu bisa pulih kembali. Jika nilai aset instrumen investasi kita turun pada saat ini, itu wajar. Namun mengingat pada krisis-krisis yang telah terjadi sebelumnya, kita bisa mengambil pelajaran bahwa nilainya bisa menguat lagi bahkan lebih baik setelah kondisi memulih kembali. Justru pada saat nilai aset instrumen investasi sedang anjlok seperti ini, kita bisa memanfaatkan momentum average down atau membeli aset pada saat harganya sedang murah. Banyak yang menyebutnya dengan ‘harga diskon’.

Jika memang tujuan investasinya panjang, jangan mudah panik dengan menjual aset pada saat nilainya sedang turun. Meski begitu, kita juga tetap harus waspada. Jangan sampai ketidakpanikan kita tersebut malah membuat kita abai terhadap kinerja aset instrumen investasi kita. Jika malah prospek ke depannya semakin memburuk dari hari ke hari, kita malah bisa merealisasikan kerugian yang lebih besar. Maka dari itu kita sangat perlu juga untuk meninjau kembali apakah strategi yang kita gunakan dalam berinvestasi masih tepat dan cocok di masa krisis seperti ini atau harus kita ubah.

3. Tinjau Ulang Strategi Investasi

Hal selanjutnya yang perlu kita lakukan adalah meninjau kembali strategi investasi yang telah kita lakukan, karena kondisinya telah berubah dari sebelumnya. Kita harus melakukan pembaharuan terhadap gaya dan strategi kita dalam berinvestasi. Jika sebelumnya gaya investasi kita agresif atau berani, tentu kita harus mengubahnya menjadi lebih konservatif atau berhati-hati di masa krisis seperti ini. Strategi investasi yang kita gunakan pun harus kita sesuaikan dengan kondisi saat ini.

Strategi yang menurut saya cocok digunakan pada saat masa krisis seperti ini antara lain Dollar Cost Averaging (DCA) dan diversifikasi. DCA berarti menabung rutin secara konsisten meski bagaimana pun keadaannya. Strategi ini cocok kita kaitkan dengan pepatah “Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit.”. Tidak usah memaksakan kehendak untuk melakukan strategi Lump Sum atau menabung dengan jumlah besar secara sekaligus pada satu waktu, karena kita dihadapkan dengan keadaan yang sulit. Investasi dalam jumlah besar tentu akan semakin menyulitkan kondisi keuangan kita. Selanjutnya kita perlu juga menerapkan diversifikasi, atau pembagian dana/modal ke berbagai aset instrumen investasi. Tujuan diberlakukannya diversifikasi ini adalah untuk meminimalisir kerugian. Jika ada nilai satu aset yang turun, kerugiannya bisa ditutup dengan aset lain yang nilainya sedang mengalami kenaikan. Nah, maka dari itu sangat penting untuk meninjau kembali portofolio kita beserta aset atau instrumen-instrumen yang ada di dalamnya.

4. Tinjau Ulang Portofolio dan Pilih Instrumen Investasi yang Aman

Ya, kita juga perlu meninjau kembali portofolio kita. Apakah jenis instrumen investasi yang kita pilih sudah cocok dan bisa tetap stabil meskipun berada di tengah kondisi krisis seperti ini. Tidak bisa dipungkiri, kondisi seperti ini membuat banyak investor menjadi cenderung lebih konservatif dari sebelumnya. Memilih instrumen yang tingkat risikonya kecil dan aman merupakan cara bagus dalam menghadapi ketidakpastian pergerakan harga pasar.

Saya pribadi misalnya, kemarin telah menjual seluruh aset reksadana saham karena tingkat risikonya tinggi dan semakin hari semakin turun nilainya. Saya hanya menyisakan reksadana pasar uang dan reksadana obligasi dalam portofolio pribadi saya saat ini. Mengingat tujuan investasi saya termasuk ke dalam horizon jangka pendek, yaitu kurang dari setahun. Tentu instrumen investasi dengan tingkat risiko yang tinggi tidak cocok berada dalam portofolio saya, terutama di masa yang krisis seperti ini karena saya bisa merealisasikan kerugian yang lebih besar pada saat tenggat waktu tujuan investasi saya terlah tercapai nanti.

Oh iya, sebelumnya saya telah menulis instrumen investasi yang masih aman dan stabil kinerjanya meski di tengah kondisi krisis seperti saat ini. Sobat Investor bisa membacanya di sini ya.

5. Terus Pantau Kinerja Aset/Instrumen Investasi

Terakhir dan tidak kalah pentingnya, kita harus secara berkala memantau grafik kinerja aset atau instrumen investasi dalam portofolio kita. Tentu kita harus tahu perkembangan aset atau instrumen investasi yang kita miliki dari waktu ke waktu. Apakah semakin hari semakin baik kinerjanya atau malah sebaliknya.

Dengan melakukan pemantauan secara berkala, kita bisa berhati-hati dan mengamankan aset investasi jika seandainya kondisi perekonomian dunia semakin buruk ke depannya.

Itulah beberapa tips berinvestasi pada masa krisis. Semoga kondisi perekonomian global (termasuk Indonesia) bisa segera pulih sehingga pergerakan pasar modal bisa kembali normal seperti semula. Sekian, semoga bermanfaat!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investasi Reksadana dengan Mudah Menggunakan Aplikasi Bibit (Cocok untuk Pemula)

Sumber gambar: Bibit.id Halo  Sobat Investor!      Kali ini saya akan menjelaskan bagaimana mudahnya berinvestasi reksadana secara  online  melalui aplikasi Bibit. Investasi reksadana ini banyak dikatakan sangat cocok sekali untuk pemula karena sangat praktis dan mudah.      Pertama, kalian harus tahu apa itu reksadana. Jadi, apa sih sebenarnya reksadana itu?  Reksadana adalah wadah dana/modal bagi investor untuk berinvestasi dalam instrumen-instrumen investasi yang tersedia di pasar modal. Dana ini kemudian dikelola oleh Manajer Investasi (MI) untuk diinvestasikan ke dalam portofolio investasi seperti pasar uang, obligasi, dan saham.      Jadi sederhananya, kita tinggal setor dana/modal saja untuk diinvestasikan (membeli produk reksadana), kemudian kita tinggal memantau return /imbal hasilnya saja karena dana kita tadi sudah dikelola oleh perusahaan/Manajer Investasi (MI) ...

Download RPP 1 Lembar Bahasa Indonesia Kelas XI SMA Semester Ganjil (Teks Cerita Pendek) Pertemuan kedua

Halo Sobat Guru!  Seperti yang telah kita ketahui, RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) 1 lembar merupakan RPP yang disederhanakan sebagai wujud implementasi dari surat edaran Mendikbud No. 14 Tahun 2019 tentang penyederhanaan RPP. Surat edaran tersebut berisi pernyataan bahwa pembuatan RPP harus dilakukan dengan menerapkan 3 prinsip utama, yakni efisien, efektif dan berorientasi pada siswa. Jika sebelumnya RPP berisi 13 komponen, kini RPP 1 lembar ini hanya berisi 3 komponen utama yakni: 1. Tujuan Pembelajaran 2. Langkah-langkah Pembelajaran, dan  3. Penilaian Sebagai guru Bahasa Indonesia di instansi tempat saya bekerja, tentu saya juga harus menyiapkan atau membuat RPP 1 lembar ini. Menurut saya, dengan disederhanakannya RPP menjadi satu lembar ini, tugas para guru akan menjadi lebih ringan khususnya dalam hal persiapan administrasi pembelajaran. Para guru kini bisa lebih fokus dan leluasa untuk memperluas wawasan materi maupun mengembangkan bahan ajar yang akan diberikan...

Hal-hal Penting yang Perlu dilakukan Sebelum Berinvestasi Reksadana

Halo Sobat Investor! Pada era yang serba canggih ini, investasi merupakan hal yang sudah tidak sulit untuk dilakukan oleh siapa pun, apa lagi terkesan menakutkan atau ‘mengintimidasi’ karena dibayangi oleh risiko kerugian. Saat ini, banyak sekali pilihan instrumen investasi yang dapat dijadikan sebagai alternatif untuk mengalokasikan dana para investor—yang dapat diakses dengan mudah secara digital. Semua diproses secara instan dan praktis secara online . Namun, seiring dengan banyaknya kemudahan yang ditawarkan oleh era modern dalam berinvestasi seperti sekarang, semakin banyak pula calon investor yang abai terhadap hal-hal penting yang harus diperhatikan sebelum berinvestasi. Banyak sekali calon investor yang gegabah dan malas meluangkan sedikit waktunya untuk melakukan analisis-analisis sederhana pada instrumen investasi yang mereka pilih sebelum ‘bergelut’ dengannya. Nah , untuk kali ini saya akan membahas mengenai hal-hal penting yang harus diperhatikan   sebelum memulai b...